Senin, 06 Januari 2014

Praktikum Mikrobiologi Terapan (Mikrobiologi air)

ABSTRAK
Nadiana Rafika Putri. 2013. Mikrobiologi air. Program Studi Pendidikan Biologi, Program Sarjana (S1). Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Palembang. Dosen Pengasuh Susi Dewiyeti, S.Si., M.Si.
Kata Kunci : air sumur, bakteri
Tujuan praktikum: (1) Untuk mengetahui ada atau tidak mikroba pada air; (2) Uji coba praktikum dilaksanakan di Laboratorium Biologi FKIP Universitas Muhammadiyah Palembang Tanggal 16 Desember 2013 pukul 13.00 WIB. Parameter yang diamati dalam praktikum ini adalah jenis, jumlah, warna, bentuk, elevansi, permukaan, diameter, dan tepian koloni (4) Hasil Praktikum; (1) Dari hasil pengamatan dan uji coba yang telah dilakukan, diketahui pada air sumur hanya terdapat 1 jenis bakteri berupa A1 dengan jumlah koloni 17, bentuknya tidak beraturan dan menyebar, tepian berambut, elevasi timbul dan berwarna putih susu. Setelah mengetahui hasil uji coba terhadap air sumur, ternyata air sumur tersebut dikategorikan aman.
     
      A.    PRAKTIKUM KE   : 6
     B.     JUDUL                      : Mikrobiologi Air
     C.    TUJUAN                   : Adapun tujuan dilaksanakannya praktikum ini adalah untuk mengetahui ada atau 
                                               tidaknya mikroba pada air.
     D.  DASAR TEORI        :
Air merupakan materi esensial bagi kehidupan makhluk hidup karena makhluk hidup memerlukan air untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya. Secara umum fungsi air dalam tubuh setiap mikroorganisme adalah untuk melarutkan senyawa organik, menstabilkan suhu tubuh dan melangsungkan berbagai reaksi kimia tingkat seluler (Campbell, dkk, 2002).
Pemeriksaan air secara mikrobiologi sangat penting dilakukan karena air merupakan substansi yang sangat penting dalam menunjang kehidupan mikroorganisme yang meliputi pemeriksaan secara mikrobiologi baik secara kualitatif maupun kuantitatif dapat dipakai sebagai pengukuran derajat pencemaran. Kualitas air didasarkan pada pengujian ada tidaknya coliform dalam air. Keberadaan bakteri coli merupakan parameter yang dapat digunakan untuk menentukan kualitas air  yang aman, dimana kehadirannya dapat dijadikan indikator pencemaraan air. Ciri-ciri bakteri coliform adalah bersifat gram negatif, bentuk morfologi batang pendek, dan dapat memfermentasi medium laktosa cair dengan membentuk asam dan gas ( Pelczar dan Chan, 1988).
Sifat-sifat bakteri koliform yang penting adalah :
Mampu tumbuh baik pada beberapa jenis substrat
  1. Mempunyai sifat dapat mensintesis vitamin
  2. Interval suhu pertumbuhan antara 100 0C – 460 0C
  3. Mampu menghasilkan asam dan gas
Bakteri coliform dapat dibedakan atas dua kelompok yaitu coliform fecal misalnya Escherichia coli. Koliform nonfekal misalnya Enterobacter aerogenesE. Coli merupakan bakteri yang berasal dari kotoran hewan atau manusia, sedangkan E. aerogenes ditemukan pada hewan atau tumbuhan yang telah mati. Adanya E.coli pada air minum menandakan air tersebut telah terkontaminasi feses manusia dan mungkin juga mengandung patogen usus (Dwijoseputro, 2005).
Menurut Fardiaz (1989),  dua uji yang dilakukan pada bakteri koliform yaitu secara kualitatif dan kuantitatif. Uji kualitatif koliform secara lengkap terdiri dari 3 tahap yaitu uji pendugaan (presumptive test ), uji penguat (confirmed test,) dan uji pelengkap (completed test). Uji penduga juga merupakan uji kuantitatif koliform dengan menggunakan metode MPN.
a.    Uji pendugaan (presumptive test)
Merupakan tes pendahuluan tentang ada tidaknya kehadiran bakteri koliform berdasarkan terbentuknya asam dan gas disebabkan oleh fermentasi laktosa oleh bakteri golongan koli. Terbentuknya asam dilihat dari kekeruhan pada media laktosa, dan gas yang dihasilkan dapat dilihat dalam tabung durham berupa gelembung udara. Tabung dinyatakan positif jika terbentuk gas sebanyak 10% atau lebih dari volume di dalam tabung Durham. Banyaknya kandungan bakteri Escherichia coli dapat dilihat dengan menghitung tabung yang menunjukkan reaksi positif terbentuk asam dan gas dan dibandingkan dengan tabel MPN. Metode MPN dilakukan untuk menghitung jumlah mikroba di dalam contoh yang berbentuk cair. Bila inkubasi 1 x 24 jam hasilnya negatif, maka dilanjutkan dengan inkubasi 2 x 24 jam pada suhu 350C. Jika dalam waktu 2 x 24 jam tidak terbentuk gas dalam tabung Durham, dihitung sebagai hasil negatif. Jumlah tabung yang positif dihitung pada masing-masing seri. MPN penduga dapat dihitung dengan melihat tabel MPN.
b.    Uji penguat (confirmed test)
Hasil uji dugaan dilanjutkan dengan uji ketetapan. Dari tabung yang positif terbentuk asam dan gas terutama pada masa inkubasi 1 x 24 jam, suspensi ditanamkan pada media Eosin Methylen Biru Agar (EMBA) secara aseptik dengan menggunakan jarum inokulasi. Koloni bakteri Escherichia coli tumbuh berwarna kehijauan dengan kilat metalik atau koloni berwarna merah muda dengan lendir untuk kelompok koliform lainnya.
c.    Uji pelengkap (completed test)
Pengujian selanjutnya dilanjutkan dengan uji kelengkapan untuk menentukan bakteri Escherichia coli. Dari koloni yang berwarna pada uji ketetapan diinokulasikan ke dalam medium kaldu laktosa dan medium agar miring Nutrient Agar ( NA ), dengan jarum inokulasi secara aseptik. Diinkubasi pada suhu 370C selama 1 x 24 jam. Bila hasilnya positif terbentuk asam dan gas pada kaldu laktosa, maka sampel positif mengandung bakteri Escherichia coli. Dari media agar miring NA dibuat pewarnaan Gram dimana bakteri Escherichia coli menunjukkan Gram negatif berbentuk batang pendek (Dwidjoseputro, 2005).
Output metode MPN adalah nilai MPN. Nilai MPN adalah perkiraan jumlah unit tumbuh (growth unit) atau unit pembentuk–koloni (colony–forming unit) dalam sampel. Namun, pada umumnya, nilai MPN juga diartikan sebagai perkiraan jumlah individu bakteri. Satuan yang digunakan, umumnya per 100 mL atau per gram. Jadi misalnya terdapat nilai MPN 10/g dalam sebuah sampel air, artinya dalam sampel air tersebut diperkirakan setidaknya mengandung 10 coliform pada setiap gramnya. Makin kecil nilai MPN, maka air tersebut makin tinggi kualitasnya, dan makin layak minum. Metode MPN memiliki limit kepercayaan 95 persen sehingga pada setiap nilai MPN, terdapat jangkauan nilai MPN terendah dan nilai MPN tertinggi (Hadioetomo, 1993).
Menurut Widianti, dkk (2004), Standar Nasional Indonesia (SNI) mensyaratkan tidak adanya coliform dalam 100 ml air minum. Akan tetapi United States Enviromental Protection Agency (USEPA) lebih longgar persyaratan uji coliform-nya mengingat coliform belum tentu menunjukkan adanya kontaminasi feses manusia, apalagi adanya patogen. USEPA mensyaratkan presence/absence test untuk coliform pada air minum, dimana dari 40 sampel air minum yang diambil paling banyak 5% boleh mengandung coliform. Apabila sampel yang diambil lebih kecil dari 40, maka hanya satu sampel yang boleh positif mengandung coliform. Meskipun demikian, USEPA mensyaratkan pengujian indikator sanitasi lain seperti protozoa Giardia lamblia dan bakteri Legionella. Media endo agar adalah media kultur selektif dan diferensial untuk mendeteksi keberadaan bakteri koliform fekal dan mikroorganisme lainnya. Selektivitas media endo agar tersusun atas sodium sulfate atau kombinasi basic fuchsin, yang menghasilkan suspensi mikroorganisme gram positif. Bakteri koliform memfermentasi laktosa, menghasilkan koloni berwarna merah muda hingga warna merah seperti bunga mawar serta berbagai pewarnaan yang mirip. Koloni organisme yang tidak memfermentasi laktosa tidak berwarna sehingga tampak kontras dengan latar media yang berwarna merah muda (Dad,2000).
Pada percobaan ini, dilakukan pengujian kualitas sampel air dengan cara mengamati ada tidaknya bakteri Escherichia coli dalam sampel air tersebut, karena bakteri ini merupakan indikator sanitasi. Keberadaan coliform fekal (Escherichia coli) ini dapat membuat kualitas air tidak baik karena air dapat terkontaminasi. Pengujian kualitas air meliputi tiga tahap, yaitu uji pendugaan (Presumtive test), uji penetapan (Comfirmed test), dan uji lengkap (Complete test). Uji pendugaan dengan menggunakan metode MPN dilakukan dengan cara menginokulasikan sampel air ke dalam tabung yang berisi medium laktosa cair dan tabung durham. Volume dari sampel air yang digunakan masing-masing 10 ml, 1 ml dan 0,1 ml dilakukan pada 5 tabung, sehingga seluruh tabung berjumlah 15 buah. Semua tabung diikubasi pada  suhu 37 0 C selama 48 jam. Hasil positif dapat diketahui dengan terbentuknya gas atau gelembung yang terdapat pada tabung durham. Fungsi dari tabung durham adalah untuk mengetahui terbentuknya gas gelembung atau untuk menangkap gas yang ditimbulkan akibat adanya fermentasi laktosa menjadi asam dan gas (Hadioetomo, 1993).
Berdasarkan percobaan yang dilakukan pada sampel yang volumenya 10 ml terdapat 5 buah tabung yang hasilnya positif semua. Pada sampel yang volumenya 1 ml terdapat 3 buah tabung  hasilnya juga positif. Sedangkan pada sampel 0,1 terdapat 5 buah tabung yang hasilnya negatif. Semakin banyak volume suatu sampel maka semakin banyak pula bakteri yang terkandung di dalamnya. Dari masing-masing perlakuan yang sudah diketahui jumlah berapa tabung yang positifnya maka dapat diperoleh MPNnya dengan cara melihat tabel MPN yang ada dibuku petunjuk. MPN yang diperoleh dari hasil perhitungan diperoleh hasil 79. Jumlah coliform dalam sampel diperoleh hasil 67,91 per 100 ml sampel. Berdasarkan hasil bahwa jumlah coliform dengan menggunakan rumus, hasilnya berbeda dengan jumlah MPN. Hal ini dapat terjadi karena ketidaktelitian praktikan dalam melakukan percobaan yang mengakibatkan terjadinya kesalahan. Pada percobaan uji pendugaan ini terjadi perubahan warna dari merah menjadi kuning. Hasil ini menunjukkan hasil yang positif yang berarti terbentuknya asam dan gas, akan tetapi belum dapat diketahui apakah bakteri tersebut merupakan bakteri  Escherichia coli  atau bukan, karena itu perlu dilakukan adanya uji penetapan (Hadioetomo, 1993).
Kelebihan dari  metode MPN ini adalah waktu yang dibutuhkan sangat sedikit atau sangat singkat, sedangkan kekurangan dari metode MPN yaitu hasil yang diperoleh terkadang tidak begitu akurat. Kelebihan pada perhitungan dengan menggunakan rumus yaitu hasil yang diperoleh lebih akurat dan kekurangannya dari metode perhitungan dengan menggunakan rumus yaitu waktu yang dibutuhkan lama (Hadioetomo, 1993).
Uji berikutnya adalah uji penetapan yang berfungsi untuk meyakinkan hasil positif yang ada pada uji pendugaan. Pada uji penetapan ini biakan pada medium laktosa cair diinokulasikan pada medium endo agar kemudian diinkubasi pada  suhu 37 0C selama 48 jam.  Fungsi dari medium endo agar adalah sebagai agen penyerap asetildehid yang merupakan komponen utama reaksi pembentukan koloni tipikal. Medium ini merupakan campuran dan basic fuchsin laktosa agar dan juga sodium sulfit (Hadioetomo, 1993).
Hasil positif ini ditandai dengan terbentuknya koloni yang berwarna hijau metalik ataupun adanya ungu di tengah koloni. Hijau metalik ini disebabkan karena adanya bakteri coliform yang tumbuh sehingga terjadi fermentasi laktosa yang dapat membentuk asetaldehid dan juga bereaksi dengan sulfit dari medium sehingga basic fuchsin dan medium agar akan dilepas dan akhirnya akan terbentuk warna mengkilap seperti logam (Hadioetomo, 1993).
Hasil yang diperoleh pada uji penetapan ini, pada sampel 10 ml yang terdiri dari 5 tabung tersebut pada tabung 1 dan tabung 2 warna koloninya hijau metalik. Sedangkan pada pengecatan gram diperoleh bahwa warnanya merah, bentuknya adalah batang pendek dan bersifat gram (-) berarti hasil menunjukkan positif (+) terhadap adanya bakteri coliform. Pada tabung  3, 4 dan 5 warna koloninya juga hijau metalik tetapi ada juga yang berwarna pink. Hasil ini tetap menunjukkan hasil yang positif. Setelah dilakukan pengecatan gram, warnanya menjadi merah, bentuknya ada yang berbatang pendek maupun berbatang panjang serta bulat, dan bersifat gram negatif. Pada sampel 1 ml, tabung 1 warna koloninya pink dan ungu, dan setelah di cat gram warnanya menjadi merah, berbentuk batang pendek dan bulat dan bersifat gram negatif. Tabung 2 warna koloninya hijau metalik, dan setelah di cat gram warnanya menjadi merah, berbentuk batang pendek dan bulat dan bersifat gram negatif. Pada tabung 3 warna koloninya pink, dan setelah di cat gram warnanya menjadi merah, berbentuk bulat dan bersifat gram negatif (Hadioetomo, 1993).
Uji bakteri coliform yang terakhir adalah uji lengkap yang bertujuan untuk memastikan adanya coliform dalam air. Uji lengkap ini dilakukan dengan cara menginokulasikan sampel ke dalam medium laktosa cair dan medium nutrien agar miring. Tujuan dari inokulasi sampel ke dalam medium laktosa cair adalah untuk mengetahui terbentuknya gas dan asam, sedangkan tujuan dari inokulasi ke dalam medium nutrien agar miring yaitu untuk mengetahui sifat dari bakteri apakah bersifat gram positif atau bersifat gram negatif dan juga untuk mengamati bentuk sel dan koloni bakteri. Hasil positif pada uji lengkap ini yaitu terbentuknya gas, sifat bakteri gramnya negatif dan bentuknya batang pendek (Hadioetomo, 1993).
Hasil dari uji lengkap ini, untuk sampel 10 ml  pada medium laktosa cair terjadi perubahan warna merah menjadi kuning dan ada gelembung gas pada tabung durham. Pada medium laktosa cair tabung 1, warna kuning yang dihasilkan banyak (++) dan terbentuk gas, sedangkan pada medium agar miring bentuk koloninya filiform, berwarna merah, dan elevasinya raised. Setelah dilakukan pengecatan gram, bentuk selnya bulat dan batang pendek, berwarna merah, dan bersifat gram negatif. Pada medium laktosa cair tabung 2, warna kuning yang dihasilkan sedikit (+) dan terbentuk gas, sedangkan pada medium agar miring bentuk koloninya spreading, berwarna merah, dan elevasinya convex regose. Setelah dilakukan pengecatan gram, bentuk selnya batang pendek, berwarna merah, dan bersifat gram negatif. Pada medium laktosa cair tabung 3, 4, dan 5 warna kuning yang dihasilkan sangat banyak (+++) dan terbentuk gas, sedangkan pada medium agar miring bentuk koloninya effuse (tabung 3), eniculate (tabung 4) filiform (tabung 5), ketiganya berwarna putih, dan elevasinya low convex. Setelah dilakukan pengecatan gram, bentuk selnya batang pendek dan bulat, berwarna merah, dan bersifat gram negatif. Untuk sampel 1 ml tabung 2, pada medium laktosa dihasilkan warna kuning sedikit (+) cair  dan terbentuk gas. Pada medium agar miring, bentuk koloninya breaded, berwarna krem, dan elevasinya convex regose. Setelah dilakukan pengecatan gram, bentuk selnya batang pendek dan bulat, berwarna merah, dan bersifat gram negatif. Untuk kedua sampel ini, didapatkan hasil yang positif (mengandung bakteri koliform) (Hadioetomo, 1993).
Berdasarkan hasil ketiga uji di atas yaitu uji pendugaan, uji penetapan dan uji lengkap maka dapat disimpulkan bahwa sampel air mengandung coliform yang ditandai dengan dilihat dari hasil yang positif pada uji lengkap yaitu dengan adanya bakteri gram negatif  (-) dan berbentuk batang pendek dan bulat yang menunjukkan ciri-ciri bakteri koliform. Hal ini menunjukkan bahwa air yang digunakan sudah tercemar dan tidak aman untuk dikonsumsi. Menurut USEPA, apabila sampel yang diambil lebih kecil dari 40, maka hanya satu sampel yang boleh positif mengandung coliform. Sedangkan dari hasil yang di dapat, dari 15 tabung sampel, 6 tabung atau hampir setengahnya menunjukkan hasil positif adanya bakteri koliform dalam air (Fardiaz, 1989).
           E.     PELAKSANAAN PRAKTIKUM
1.      Waktu dan Tempat
Waktu       : Senin, 17 Desember 2013, Pukul 13.00 WIB
Tempat      : Laboratorium FKIP Universitas Muhammadiyah Palembang
2.      Alat dan Bahan
Alat:
a.       Tip
b.      Mikropipet
c.       Cawan petri
d.      Gelas kimia
e.       Bunsen
f.       Sprayer
g.      Batang L
Bahan :
a.       Media NA
b.      Alkohol 70%
c.       Air sumur daerah pertahanan, Plaju
3.      Cara Kerja
a.       Pipetlah 1 ml sampel air sumur, air sungai, air rawa, air got secara aseptis dengan menggunakan mikropipet.
b.      Tuangkan diatas permukaan NA dan ratakan dengan dengan batang L secara aseptis.
c.       Bakar pinggiran mulut cawan petri dengan bunsen
d.      Letakkan cawan petri dengan posisi terbalik dan dibungkus dengan kertas.
e.       Inkubasi selama 24 jam didalam inkubator pada suhu 37OC.
f.       Setelah inkubasi 24 jam amati pertumbuhan mikroba pada cawan petri (jumlah koloni, bentuk koloni, warna koloni, elevasi koloni, permukaan koloni, tepi koloni, diameter).
F.     HASIL DAN PEMBAHASAN
1.      Hasil Praktikum



Tabel 1. Mikroba air yang  terdapat pada air sumur
Jenis Air
No
Jenis
Jumlah
Bentuk
Tepian
Elevasi
Warna
Air sumur
A
A1
17
Tidak beraturan dan menyebar
Berambut
Timbul
Putih susu

2.      Pembahasan
Berdasarkan hasil uji coba dan pengamatan yang telah dilakukan ternyata ditemukan pada air sumur hanya terdapat 1 jenis bakteri berupa A1 dengan jumlah koloni 17, bentuknya tidak beraturan dan menyebar, tepian berambut, elevasi timbul dan berwarna putih susu.
  1. KESIMPULAN
Dari hasil pengamatan dan uji coba yang telah dilakukan, diketahui pada air sumur hanya terdapat 1 jenis bakteri berupa A1 dengan jumlah koloni 17, bentuknya tidak beraturan dan menyebar, tepian berambut, elevasi timbul dan berwarna putih susu. Setelah mengetahui hasil uji coba terhadap air sumur, ternyata air sumur tersebut dikategorikan aman.

  1. DAFTAR PUSTAKA
Campbell, N. A., J.B. Reece., L.G. Mitchell. 2002. Biologi Jilid 2 edisi Kelima. Erlangga. Jakarta.
Dad. 2000. Bacterial Chemistry and Physiology. John Wiley & Sons, Inc. New York.
Dwidjoseputro, D. 2005. Dasar-Dasar Mikrobiologi Cetakan ke-13. Percetakan Imagraph. Jakarta.
Fardiaz, S. 1989. Petunjuk Laboratorium Analisis Mikrobiologi Pangan. PAU Pangan Gizi.  IPB. Bogor.
Hadioetomo, R. 1993. Mikrobiologi Dasar-Dasar Dalam Praktek. Gramedia.

Jakarta.Pelczar, M.J dan Chan, E.C.S. 1988. Dasar-dasar Mikrobiologi. UI Press. Jakarta.

Praktikum Mikrobiologi Terapan (Uji Mikroba Bahan Pangan)

ABSTRAK
Nadiana Rafika Putri. 2013. Uji Mikroba Bahan Pangan. Laporan Praktikum Mikrobiologi Terapan. Program Studi Pendidikan Biologi, Program Sarjana (S1). Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Palembang. Dosen Pengasuh Susi Dewiyeti, S.Si., M.Si.
Kata Kunci : Pempek, Media agar NA
Tujuan praktikum: (1) Untuk mengetahui kualitas dan hieginitas bahan pangan; (2) Untuk mengetahui ada atau tidak mikroba pada bahan pangan. (2) Uji coba praktikum dilaksanakan di Laboratorium Biologi FKIP Universitas Muhammadiyah Palembang Tanggal 14 desember pukul 09.00 WIB. Parameter yang diamati dalam praktikum ini adalah jenis, jumlah, warna, bentuk, elevansi, permukaan, diameter, dan tepian koloni (4) Hasil Praktikum; (1) Berdasarkan hasil uji coba dan pengamatan yang telah dilakukan ternyata ditemukan pada pempek terdapat 3 jenis bakteri berupa A1 dan B1 dan C1; (2) Pada jenis A1 berjumlah 42 koloni, berbentuk konsentris dengan tepian berambut, elevasi cembung dan berwarna putih; (3) Pada jenis bakteri B1 berjumlah 64 koloni, bentuknya tidak beraturan dan menyebar dengan tepian berambut, elevasi timbul dan berwarna kuning (4) Pada jenis bakteri C1 berjumlah 378 koloni, bentuknya bundar dengan tepian licin, elevasi datar dan berwarna putih.


     A.    PRAKTIKUM KE   : 5
    B.     JUDUL                      : Uji Mikroba Bahan Pangan
    C.    TUJUAN                   : Adapun tujuan dilaksanakannya praktikum ini adalah :
                                             1.      Untuk mengetahui kualitas dan hieginitas bahan pangan
                                             2.      Untuk mengetahui ada atau tidak mikroba pada bahan pangan
    D.    DASAR TEORI        :
Mikrobiologi Pangan
Mikrobilogi pangan adalah ilmu yang mempelajari pengaruh proses pengolahan terhadap  sel mikroorganisme, termasuk mekanisme ketahanan mikroorganisme terhadap proses pengolahan. Disamping itu, ilmu mikrobiologi pangan merupakan ilmu yang juga mempelajari perubahan-perubahan yang merugikan seperti kebusukan dan keracunan makanan, maupun perubahan-perubahan yang menguntungkan seperti dalam fermentasi makanan. Proses pengolahan dan pengawetan makanan tidak sepenuhnya dapat mencegah semua perubahan-perubahan yang merugikan. Contonya, pada makanan-makanan  yang telah diawetkan dengan pembekuan atau pengeringan, enzim-enzim yang terdapat di dalam bahan pangan masih mungkin aktif dan menyebabkan perubahan warna, tekstur maupun citarasa dari suatu produk pangan. Hal ini menunjukkan sebelum produk pangan mengalami proses pembekuan atau pengerimngan sebaiknya dilakukan  proses pendahuluan dengan pemanasan, seperti blansir, yang berguna untuk menginaktifkan enzim-enzim yang terdapat di dalam bahan pangan mentah (Srimurtiar, 2012).
Ketahanan mikroorganisme maupun enzim-enzim yang terdapat di dalam sel mikroorganisme berbeda terhadap berbagai proses pengawetan dan pengolahan. Contohnya, penyimpanan makanan pada suhu rendah pada umumnya dapat menghambat pertumbuhan mikroorganisme, tetapi suhu penyimpanan tersebut bahkan dapat merangsang pertumbuhan mikroorganisme yang tergolong psikrofilik yang dapat menyebabkan kebusukan makanan. begitu juga dengan penambahan garam pada umumnya dapat menghambat kebanyakan mikroorganisme, tetapi dapat merangsang pertumbuhan bakteri halofiilik yang sering mengakibatkan perubahan warna (Srimurtiar, 2012).
Tidak saja ketahanan mikroorganisme dalam bahan pangan yang berbeda, karakteristik dalam masing-masing produk pangan adalah berbeda, dimana sifat tersebut akan mempengaruhi komposisi dari bahan pangan, cara pengolahan, dan kondisi penyimpananannya. Hal ini menunjukkan bahwa sifat mikrobiologi pada setiap produk berbeda dan sangat spesifik (Srimurtiar, 2012).
A.           Faktor Penyebab Pertumbuhan Mikroba Dalam Bahan Pangan
1.        Faktor Intrinsik (Sifat Bahan Pangan)
faktor intrinsik atau faktor dalam  yang dapat mempengaruhi populasi mikroorgannisme didalam makanan meliputi sifat-sifat kimia atau komposisi, sifat fisik dan struktur makanan. Faktor ini meliputi nilai aktivitas aira(Aw), komposisi nutrien, pH, potensial redoks, adanya bahan pengawet alamiah atau tambahan dan sebagainya (Srimurtiar, 2012).
a.    Aktivitas Air (aw= water activity)
Nilai aktivitas air untuk beberapa bahan makanan dan jenis  mikrooganisme khusus yang terdapat didalamnya kan berbeda untuk setiap jenis bahan makanan. Bahan makanan dengan kadar air tinggi ( nilai aw: 0,95 – 0,99) umumnya dapat ditumbuhi oleh semua jenis mikroorganisme dan biasanya kerusakan akan lebih banyak karena bakteri dapat tumbuh lebih cepat dibandingkan dengan kapang dan khamir (Srimurtiar, 2012).
b.    Nilai pH
Umumnya nilai pH bahan makanan berkisar antara 3,0 sampai 8,0. Kebanyakan mikroorganisme tumbuh pada pH sekitar 5,0 sampai 8,0 dan hanya jenis-jenis tertentu saja mikroorganisme yang ditemukan pada bahan makanan dengan pH yang lebih rendah (Srimurtiar, 2012).
c.    Potensial Redoks
Potensial redoks dari suatu sistem biologis adalah suatu sistem indeks dari tingkat oksidasinya. Bahan makanan dengan potensial redoks yang tinggi akan membantu pertumbuhan dari jenis-jenis mikroorganisme yang bersifat aerobik seperti Pseudomonas (Srimurtiar, 2012).
d.   Zat-zat Gizi
Komposisi bahan makanan dapat menentukan jenis mikroorganisme yang dominan didalamnya, karena hal ini akan menentukan jenis zat gizi yang penting tersedia untuk perkembangan mikroorganisme. Bahan makanan dengan gizi yang cukup akan membantu pertumbuhan mikrooragnisme seperti, Lactobacillus yang membutuhkan banyak zat gizi (Srimurtiar, 2012).
e.    Bahan Anti Mikrobial Alamiah
Bahan anti mikroba dapat diperoleh secara alamiah pada bahan-bahan makanan seperti minyak essensial dan tanin pada bahan makanan asal tumbuh-tumbuhan dan lizozyme serta avidin pada bahan makanan dari hewani seperti telur (Srimurtiar, 2012).
f.     Struktur Biologis
Strukutr biologis seperti lapisan kulit telur, kutikula dari bagian tanaman berguna untuk mencegah masuknya mikroorganisme kedalam bahan makanan (Srimurtiar, 2012).
2.         Faktor Pengolahan
Faktor pengolahan ini akan mempengaruhi jumlah mikroorganisme yang dominan dalam bahan makanan yang telah diolah atau diawetkan. Proses pengolahan seperti pemanasan atau irradiasi dapat membunuh sebagian atau seluruh mikroorganisme, terutama  mikroorganisme yang tidak tahan terhadap panas dan irradiasi.
Pengeringan dan pembekuan bahan makanan dapat mengakibatkan kerusakan pada mikroorganisme yang terdapat didalamnya. Tetapi beberapa jenis mikroorganisme yang tahan terhadap perlakuan tersebut akan tetap dapat hidup dan dapat menyebabkan kerusakan bila bahan makanan tersebut dicairkan (Srimurtiar, 2012).
3.         Faktor  Ekstrinsik (Lingkungan)
Bahan pangan segar atau makanan olahan yang tidak langsung dikonsumsi memerlukan tahap penyimpanan atau transpor/distribusi. Faktor-faktor yang mempengaruhui penyimpanan dan transpor seperti suhu, kelembaban dan susunan gas, merupakan faktor lingkungan (ekstrinsik) yang mempengaruhi populasi jasad renik yang terdapat pada makanan (Srimurtiar, 2012).
4.         Faktor Implisit
Berbagai mikroba yang terdapat pada bahan makanan kadang-kadang mengakibatkan dua atau lebih jenis mikro organisme hidup bersama saling menguntungkan (sinergisme) atau sebaliknya yang satu merugikan  pertumbuhan jenis mikrorganisme yang lain (antagonisme) (Srimurtiar, 2012).
5.         Faktor Makanan
a.       Makanan yang mudah rusak, yaitu  yang  mempunyai  aktivitas  air (aw),  dan  pH yang relatif  tinggi  (pH>5,3),  misalnya :  daging , daging ayam, ikan ,susu dan sebagainya (Srimurtiar, 2012).
b.      Makanan yang agak awet, yaitu makanan yang mempunyai pH pertengahan (antara 4,5-6,3) atau telah mengalami proses pengawetan  sehingga kadar airnya menjadi agak rendah, misalnya: jam, jeli, susu kental manis, acar, sosis terfermentasi  dan sebagainya (Srimurtiar, 2012).
c.       Bahan  makanan  yang  awet  (tahan lama disimpan) yaitu makanan yang telah diawetkan dengan pengeringan sehingga kadar airnya (aw) rendah, misalnya  dendeng,  abon,  ikan asin     dan sebagainya (Srimurtiar, 2012).

B.            Pengaruh Proses Pengolahan terhadap Mikroorganisme
1.        Pengaruh Pemanasan Terhadap Mikroorganisme
Untuk mengendalikan pertumbuhan dan kegiatan mikroba dapat dilakukan dengan menggunakan perlakuan suhu tinggi. Pada perlakuan suhu diatas suhu maksimum pertumbuhan mikroba akan bersifat mematikan dan semakin tinggi suhunya akan semakin tinggi laju kematiannya (lia, 2012).
2.        Pengaruh Pembekuan Terhadap Mikroorganisme
Mikroorganisme dapat diklasifikasikan atas dasar suhu optimum yang berguna untuk pertumbuhannya. Umumnya mikroorganisme tidak dapat tumbuh pada suhu dibawah 320F, tetapi ada beberapa jenis khamir yang  masih bisa tumbuh dalam substrat tidak beku pada suhu dibawah 150F. Pendinginan yang lambat dapat merusak populasi mikroba dan bentuk mikrobia yang sangat peka adalah sel-sel vegetatif, sedangkan spora biasanya tidak rusak oleh pembekuan (lia, 2012).
3.        Pengaruh Pengeringan Terhadap Mikroorganisme
Proses pengeringan dalam pengolahan bahan makanan merupakan proses pembatasan air yang digunakan untuk pertumbuhan  oleh mikroorganisme. Hal ini akan menentukan jumlah dan jenis dari mikroorganisme untuk tumbuh dalam bahan makanan tersebut (lia, 2012).
4.        Pengaruh Pengolahan dengan Garam, Asam, dan Bahan Kimia Pengawet terhadap Mikroorganisme
a.         Pengolahan dengan Garam dan Asam
Garam akan sangat berpengaruh bila dimasukan kedalam bahan makanan karena garam akan dapat merobah rasa dari makanan dan juga dapat  menghambat pertumbuhan mikroorganisme pencemar pada bahan makanann terutama mikroorganisme proteolitik dan pembentuk spora walaupu dengan kadar yang sangat rendah (sampai 6%) (lia, 2012).
Pengolahan bahan makanan dengan pemberian garam/ NaCl konsentrasi tinggi dapat mencegah kerusakan dari bahan tersebut. Mikroorganisme psikrofilik dapat dicegah pertumbuhannya dengan pemberian NaCl pada konsetrasi 2-5 % dan dikombinasikan dengan suhu rendah (lia, 2012).
b.         Pengolahan dengan Gula
Penggunaan  gula dalam pengolahan bahan makanan akan mempengaruhi mikroorganisme yang terdapat dalam bahan makanan tersebut, terutama bila dalam konsentrasi yang tinggi(minimal 40% padatan terlarut).Hal ini akan mengakibatkan air yang ada dalam bahan makanan tidak tersedia untuk pertumbuhan mikroorganisme sehingga kadar airnya menjadi rendah dan keadaan inilah yang menyebabkan mikroorganisme tidak mampu untuk melakukan aktifitas hidupnya (lia, 2012).
c.          Pengolahan dengan Bahan Pengawet Kimia
Penggunaan bahan kimia pengawet dalam bahan makanan dapat menghambat atau menghentikan aktivitas mikroorganisme baik bakteri, kapang dan khamir. Biasanya bahan kimia pengawet yang digunakan bersifat bakteriostatik karena hanya dipakai dalam jumlah kesil sehingga tidak membahayakan bagi konsumennya (lia, 2012).
d.        Pengaruh Radiasi dalam Pengawetan Terhadap Mikroorganisme
Penggunaan radiasi dalam pengolahan bahan makanan bisa mempengaruhi ketahahan dari mikroorganisme. Radiasi yang digunakan ada dua macam yaitu: radiasi panas yang merupakan radiasi yang menggunakan sinar dengan gelombang yang panjang  dan radiasi ionisasi yang merupakan radiasi yang menggunakan sinar gelombang yang pendek (lia, 2012).
C.            Produk Pertanian (Sayur-sayuran)
Beberapa indicator mikroorganisme pembusuk pada bahan pangan adalah bakteri yang tergolong ke dalam bakteri koliform, bakteri ini hampir ada pada setiap bahan pangan yang telah mengalami  tahap  pengolahan. Splittstoesser dan Wettergreen (1981) melakukan pengamatan terhadap beku, melaporkan adanya Enterobacter dan Klebsiella pada sayur-sayuran sejak masih di kebun yang merupakan mikroflora normal. Sehingga, mikroorganisme ini tidak dapat dijadikan sebagai indicator sanitasi. Sedangkan terkontaminasinya sayuran oleh koliform fekal seperti Escheria coli yang sebenarnya jarang ditemukan pada sayuran dapat menjadikan bakteri ini sebagai mikroorganisme indicator sanitasi pada sayuran (Widhialestari, 2012).
Sayuran segar lebih banyak terkontaminsasi E.coli dibandingkan dengan sayuran beku. Hal ini disebabkan oleh beberapa hal, yaitu: 1) Sayuran jarang terkontaminasi oleh kotoran manusia maupun hewan, kecuali jika setelah pemanenan sayuran dicuci dengan air yang terkontaminasi kotoran. 2) Sayuran bukan termasuk ke dalam habitat normal E.coli. 3)  Kemingkinan terjadi kontaminasi kotoran maupun koliform fekal pada sayuran, tetapi E.coli merupakan bakteri yang sensitive terhadap proses blansir dan pembekuan sehingga tidak akan terdeteksi pada produk sayuran beku (Widhialestari, 2012).
Untuk sayuran kaleng yang merupakan sayuran yang diproses dengan cara sterilisasi komersial di dalam kaleng sehingga diharapkan sayuran tersebut sudah terbebas dari mikroorganisme pathogen dan pembusuk yang dapat tumbuh selama penyimpanan pada suhu simpan yang normal.  Pengujian untuk kualitas keamanan makanan kaleng yang terutama adalah Clostridium botulinum. Bakteri ini tergolong bakteri anaerobic yang membentuk spora dan bersifat mesofilik, dan juga merupakan bakteri pembentuk neurotoksin yang dapat mengakibatkan keracunan yang bersifat fatal. Untuk pengujian terhadap mikroorganisme indicator sanitasi ini yang paling sering dilakukan terhadap makanan kaleng (Widhialestari, 2012).
Cemaran akan semakin tinggi pada bagian tanaman yang ada di dalam tanah atau dekat dengan tanah. Mikroba tertentu seperti Liver fluke dan Fasciola hepaticaakan berpindah dari tanah ke selada air akibat penggunaan kotoran kambing atau domba yang tercemar sebagai pupuk. Air irigasi yang tercemar Shigella sp., Salmonella sp., E. coli, dan Vibrio cholerae dapat mencemari buah dan sayur. Selain itu, bakteri Bacillus sp., Clostridium sp., dan Listeria monocytogenes dapat mencemari buah dan sayur melalui tanah. Namun, penanganan  dan pemasakan yang baik dan benar dapat mematikan bakteri patogen tersebut, kecuali bakteri pembentuk spora (Widhialestari, 2012).
D.           Produk Hasil Peternakan
1.      Daging dan Unggas
Pengujian mikroorganisme indicator pada produk daging merah dan daging unggas biasanya dilakukan untuk beberapa tujuan seperti: 1) Menjamin keamanan produk pangan secara mikroorganisme biologis, 2) Mengetahui kondisi sanitasi selama pengolahan, dan 3)  Mengetahui daya awet dari produk pangan. Alasan dari pengguanaan indicator adalah untuk memantau mutu bahan mentah yang digunakan, kondisi pengolahan, dan mutu produk pada berbagai tahap pengolahan dan distribusi. Beberapa mikroorganisme indicator pada daging merah dan unggas dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Mikroorganisme Indikator pada Produk Daging dan Unggas
Indikator
Mikroorganisme
Keamanan
Salmonella
Staphylococcus aureus
Clostridium perfringens
Clostridia mesofilik
Sanitasi
Total hitungan cawan aerobik pada suhu 35-37°C
Kokiform
Eschericia coli
Enterokoki
Daya tahan simpan
Total hitungan cawan aerobik pada suhu 4-10°C dan 20-30°C
Kapang dan khamir
Bakteri asam laktat (BAL)
Pseudomonad
Sumber: (Widhialestari, 2012).
2.      Makanan Kaleng
Makanan kaleng adalah produk olahan pangan yang sudah diawetkan agar tahan lama. Di dalam bukunya yang sangat terkenal, Thermobacteriology in Food Processing, Prof. Dr. C.R. Stumbo mengatakan bahwa makanan yang dikalengkan secara hermitis (penutupannya sangat rapat, sehingga tidak dapat ditembus oleh udara, air, mikrobia atau bahan asing lain) merupakan produk teknologi pengawetan yang sudah lama dikenal.        Makanan yang diawetkan dengan proses sterilisasi komersial, masih mengandung mikroba tetapi tidak dapat tumbuh pada kondisi penyimpanan yang normal (Widhialestari, 2012).
Proses sterilisasi ini merupakan upaya penghancuran mikroba patogen
beserta sporanya. Karena ada spora bakteri tertentu yang tahan terhadap suhu tinggi, sterilisasi harus dilakukan pada suhu 2500F (1210C) dengan menggunakan uap panas (autoklav) selama 15 menit. Produk selanjutnya ditutup secara hermitis sehingga tidak memberi kesempatan mikroba masuk kembali. Lamanya pemanasan dan tingginya suhu sangat tergantung pada derajat keasaman (pH) produk. Semakin rendah pH produk, misalnya sari buah, makin rendah suhu pemanasan yang digunakan. Penurunan mutu makanan kaleng bergantung pada sifat bahan, suhu sterilisasi dan kondisi udara dalam head space-nya. Semakin lama disimpan, semakin rendah daya simpannya (shelf life loss). Kemunduran daya simpan ini disebut kadaluwarsa. Bila menggunakan bahan baku yang baik, proses pemanasan sempurna dan bahan pengemas yang tidak berbahaya, maka daya simpan makanan kaleng dapat mencapai tiga tahun. Makanan kaleng biasanya tidak menuntut kondisi penyimpanan tertentu, dalam arti dapat disimpan pada suhu kamar dan di segala tempat. Namun, penyimpanan pada suhu rendah dan kering dapat memperpanjang masa simpan. Di sisi lain penyimpanan pada tempat yang lembab dan basah dapat melahirkan proses pengkaratan yang tidak diinginkan (
Widhialestari, 2012).
Kerusakan yang lain dapat terjadi karena kurang sempurnanya pengolahan. Misalnya, selama proses sterilisasi, terjadi kebocoran kecil pada sambungan kaleng yang menggelembung, tetapi kemudian tertutup kembali setelah pendinginan. Bila dalam proses pendinginannya digunakan air kurang bersih, dapat dipastikan mikroba pembusuk akan hadir dalam kaleng melalui lobang kecil tersebut. Pada gilirannya, bila kondisi penyimpanan mendukung maka bakteri tersebut akan tumbuh dan berkembang biak dan kelak memproduksi racun (Widhialestari, 2012).
Ada beberapa hal yang harus diwaspadai supaya kita terhindar dari toksin (racun) Clostridium botulinum  yang merupakan mikroorganisme indikoator keamanan  dalam makanan kaleng yang kerap kali hadir. Bakteri yang berbahaya ini umumnya menyukai tempat-tempat yang tidak ada udara (anaerobik) dan mampu melindungi diri dari suhu yang agak tinggi (termofilik) dengan jalan membentuk spora. Cara hidup yang demikian memungkinkan bakteri ini dapat hidup pada makanan kaleng, terutama pada jenis-jenis makanan yang bahan bakunya daging, ikan, sayur yang pHnya di atas 4,6 alias nilai keasaman relatif rendah. Bila kondisi pertumbuhannya sesuai, toksin botulinum yang sangat berbahaya itu bisa dihasilkan. Jika dikonsumsi maka racun tersebut akan menyerang susunan saraf dan dampaknya bisa melumpuhkan, menyulitkan pernapasan serta menyebabkan kematian (Widhialestari, 2012).
E.            Indikator Kebusukan
Masa simpan atau daya awet dari produk daging dan unggas dapat diketahui dari kandungan mikroorganisme pembusuk di dalamnya. Kebusukan yang umum terjadi dipengaruhi oleh jenis produk, komposisi produk, proses termal yang diterapkan terhadap produk, kontaminasi selama pengolahan dan pengepakan, cara pengepakan, dan suhu, serta waktu penyimpanan (Widhialestari, 2012).
Mikroorganisme yang menjadi indicator kebusukan pada produk pangan daging merah dan unggas ini bervariasi tergantung dari jenis produknya. Untuk daging segar yang belum diolah, dimana kebusukan biasanya disebabkan oleh bakteri gram negative berbentuk batang seperti  Pseudomonad, biasanya ditetapkan pada suhu 20°C hitungan cawan selama tiga hari menggunakan Plate Count Agar (PCA). Sedangkan produk daging yang di kemas di dalam plastic yang tidak tembus oksigen, misalnya pada sosis yang dikemas/dibungkus secara vakum di dalam plastic, kebusukan disebabkan oleh bakteri asam laktat. Dalam keadaan ini, inkubasi masih dapat dilakukan pada suhu 20°C selama tiga hari, PCA dapat diganti dengan agar APT untuk memperbesar ukuran koloni. Jika digunakan medium PCA, bakteri asam laktat akan membentuk koloni berukuran kecil (Widhialestari, 2012).
Jumlah bakteri asam laktat di dalam produk daging olah yang di kemas secara vakum mempengaruhi kecepatan pembusukan suatu produk pangan yang ditandai dengan terjadinya perubahan citarasa menjadi asam dan perubahan warna cairan daging yang keluar menjadi keputih-putihan. Jumlah hitungan cawan aerobic pada produk-produk pangan yang baru diolah menunjukkan jumlah bakteri yang tahan terhadap proses pengolahan dan tingkat kontaminasi peralatan dan sumber lainnya. Namun daya simpan dari produk daging yang dikemas tidak dapat diketahui dari jumlah hitungan cawan aerobiknya, karena sebagian besar bakteri yang terhitung dalam pengujian total koloni bakteri aerobic tidak dapat utmbuh selama penyimpanan dengan kondisi vakum tersebut (Widhialestari, 2012).


F.      Proses Pembuatan Pempek
1.         Bahan-bahan
1)   Daging ikan giling halus; yg paling baik adalah ikan Gabus atau Tenggiri, jika tidak ada, dapat diganti dengan ikan apa saja.
2)   Tepung sagu atau tepung kanji (tapioka)
3)   Air
4)   garam halus secukupnya
5)   penyedap secukupnya.
2.         Alat yang digunakan
1)   Penggiling ikan
2)   Pisau
3)   Baskom
4)   Spatula
5)   Kuali
6)   Panci
7)   Kompor
8)   Talenan
9)   Sendok
3.         Cara Mengolah Ikan
1)   Ikan yang akan di olah, disiangi dan dibersihkan terlebih dahulu.
2)   Lepaskan kulit ikan dari dagingnya.
3)   Buang seluruh tulangnya.
4)   Potong kecil, siap untuk dipirik/digiling.
5)      Simpan hasil gilinag di freezer, menunggu waktu penggunaan.
Gambar 1. Proses penyiangan ikan
Sumber: Anonim. 2012

Gambar 2. Penggilingan Ikan
Sumber: Anonim 2012

4.      Cara membuat adonan dasar
1.        Keluarkan daging ikan giling dari freezer, cairkan.
2.        Masukkan air es, vetsin, dan garam. Aduk sampai lengket.
3.        Tambahkan tepung sagu atau kanji sedikit demi sedikit sambil diuleni/diuli hingga tidak menempel lagi ditangan.
4.        Uleni/Uli adonan sampai rata

     5.      Ambil sedikit adonan dasar dan dibentuk sesuai dengan jenis pempek.
    a.    Rebus pempek yang sudah di dibentuk
    b.   Rebus pempek sampai pempek mengapung diatas air, pertanda pempek sudah benar-     benar matang
    c.    Setelah pempek matang, siap digoreng.
   6.      Pembungkusan Bahan Pangan
 Pembungkusan ialah seni dan teknologi untuk melindungi dan memelihara kualitas     sesuatu barangan semasa dihantar, disimpan atau dipamerkan.
  a.       FungsiPembungkusan
1)   Melindungi barangan dari segi fizikal
2)   Menjamin kualitis barangan
3)   Memudahkan kerja penghantaran, penyimpanan dan pameranbarangan
4)   Menyampaikan maklumat barangan kepada pengguna
5)   Mengiklankanmaklumatdanmempromosikanbarangan
 b.      Jenis pembungkusan
1)   Barangan lembut atau serbuk
2)   Barangan keras
3)   Barangan cair
4)   Barang bantuk krim atau pelekat
  c.     Kriteria penting dalam pembungkusan
1)    Warna
2)    Ilustrasi
3)    Mukataip (tipografi)
4)    Penerangan
5)    Logo syarikat, nama dan alamat
6)    Rekaletak
Menurut Landa (1996), sebuah bungkus itu apabila diletakkan di atas ruang pameran untuk jualan secara tidak langsung bersaing dengan jenama atau pembungkusan yang lain diseblahnya.hanya perlulah menarik, dapat dikenali atau dilihat dengan jelas, bersesuaian dengan kehendak pelanggan dan di pasaran.

             E.     PELAKSANAAN PRAKTIKUM
1.      Waktu dan Tempat
Waktu       : Sabtu, 14 Desember 2013, Pukul 09.00 WIB
Tempat      : Laboratorium FKIP Universitas Muhammadiyah Palembang
2.      Alat dan Bahan
Alat:
a.       Cawan petri
b.      Gelas kimia
c.       Bunsen
d.      Sprayer
e.       Kapas lidi steril
Bahan :
a.       Media NA
b.      Alkohol 70%
c.       Bahan pangan berupa pempek goreng
3.      Cara Kerja
a.       Untuk bahan pangan padat
1.   Jepit dengan pinset bahan pangan lalu usapkan (metode swb) bahan pangan dengan kapas lidi steril secara aseptis.
2.   Goreskan kapas lidi tadi diatas media NA secara aseptis
3.   Bakar pinggiran mulut cawan petri dengan bunsen
4.   Letakkan cawan petri dengan posisi terbalik dan dibungkus dengan kertas
5.   Inkubasi selama 24 jam amati pertumbuhan mikroba pada cawan petri (jumlah koloni, bentuk koloni, warna koloni, elevasi koloni, permukaan koloni, tepi koloni, diameter).
b.      Untuk bahan pangan cair
1.   Masukkan kapas lidi steril kedalam bahan pangan cair secara aseptis.
2.   Goreskan kapas lidi tadi diatas media NA secara aseptis.
3.   Bakar pinggiran mulut cawan petri dengan bunsen.
4.   Letakkan cawan petri dengan posisi terbalik dan dibungkus dengan kertas.
5.   Inkubasi selama 24 jam di dalam inkubator pada suhu 37˚C
6.   Setelah inkubasi 24 jam amati pertumbuhan mikroba pada cawan petri (jumlah koloni, bentuk koloni, warna koloni, elevasi koloni, permukaan koloni, tepi koloni, diameter).

  1. HASIL DAN PEMBAHASAN
1.      Hasil Praktikum
Tabel 1. Mikroba  yang  terdapat pada pempek
No
Jenis
Jumlah
Bentuk
Tepian
Elevasi
Warna
A
A1
42
Konsentris
Berambut
Cembung
Putih
B
B1
64
Tidak beraturan dan menyebar
Berambut
Timbul
kuning
C
C1
378
Bundar
Licin
Datar
Putih

2.      Pembahasan
a.       Berdasarkan hasil uji coba dan pengamatan yang telah dilakukan ternyata ditemukan pada pempek terdapat 3 jenis bakteri berupa A1 dan B1 dan C1.
b.      Pada jenis A1 berjumlah 42 koloni, berbentuk konsentris dengan tepian berambut, elevasi cembung dan berwarna putih.
c.       Pada jenis bakteri B1 berjumlah 64 koloni, bentuknya tidak beraturan dan menyebar dengan tepian berambut, elevasi timbul dan berwarna kuning.
d.      Pada jenis bakteri C1 berjumlah 378 koloni, bentuknya bundar dengan tepian licin, elevasi datar dan berwarna putih.
  1. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil uji coba dan pengamatan yang telah dilakukan ternyata ditemukan pada pempek terdapat 3 jenis bakteri berupa A1 dan B1 dan C1.Pada jenis A1 berjumlah 42 koloni, berbentuk konsentris dengan tepian berambut, elevasi cembung dan berwarna putih.Pada jenis bakteri B1 berjumlah 64 koloni, bentuknya tidak beraturan dan menyebar dengan tepian berambut, elevasi timbul dan berwarna kuning.Pada jenis bakteri C1 berjumlah 378 koloni, bentuknya bundar dengan tepian licin, elevasi datar dan berwarna putih.
  1. DAFTAR PUSTAKA
Lia, 2012. Uji Mikrobiologi Bahan Pangan. (Online), (http://liajegeg2.blogspot. com/, diakses tanggal 24 Desember 201).
Srimurtiat, 2011 Mikrobiologi Pangan. (Online), (http://srimutiar89.blogspot. com/2011/07/mikrobiologi-pangan.html, diakses tanggal 24 Desember 2013).
Widhialestari, 2012. Laporan Praktikum Mikrobiologi. (Online), (http://widhia lestari.blogspot.com/2012/09/laporan-praktikum-mikrobiologi.html, diakses tanggal 22 Desember 2013).                                                   
Anonim, 2012. Resep Pempek Palembang. (online) (http://tiraikasih.tripod.com/ Resep_Pempek_Palembang.html). Diakses tanggal 23 Desember 2013.
Caharlie, 2012. Pembungkusan Packaging. (online) (http://ermacaharlie. blogspot.com/ 2012/06/pembungkusan-packaging.html) Diakses tanggal 25 desember 2013
Rhesma, 2011. Cara Membuat Pempek. (online) (http://rhesma777new. wordpress.com/2011/06/24/cara-membuat-pempek/) diakses tanggal 23 Desember 2013